Selasa, 16 Juni 2015

Musuh Terberat Di Duniamu adalah Diri-Mu Sendiri

Dalam berkehidupan, beberapa orang coba mencari tahu kenapa dan bagaimana semua hal yang tidak di inginkannya selalu saja terjadi. Katakanlah tidak sesuai dengan apa-apa yang di harapkannya. Tak jarang banyak yang menyalahkan keadaan, menyalahkan pihak lain, menyalahkan waktu, bahkan hingga menyalahkan Tuhan. Sementara ia sendiri mengetahui bahwa pelaku kehidupannya dan pengambil keputusan tentang langkahnya adalah dirinya sendiri. Langsung saja kita bahas fakta di lapangan. Ketika seseorang telah meniatkan ia mencari nafkah karna memang sebuah kewajiban agar ia berusaha di dunia ini, namun di perjalanan ia malah menukar niatnya untuk memperkaya diri. Walhasil ketika kekayaan tidak juga terkumpul, ia menjadi mudah stress, marah dan bosan dengan pekerjaannya. Di sini terlihat bahwa yang mengacaukan kenyamanan hatinya adalah dirinya sendiri, tanpa kontaminasi pihak luar. Ada kalanya pula, seseorang telah berencana untuk istiqomah dalam menabung, namun di kemudian hari ia mengikuti hawa nasfunya untuk membeli barang-barang agar sekedar mengikuti trend, yang kadang barang tersebut tidak begitu penting dalam kebutuhan hidupnya. Hingga tabungannya terkuras dan ia mulai kewalahan menutupi setiap lubang kebutuhan yang wajib. Di sini tampak bahwa yang mengacaukan rencananya adalah dirinya sendiri. Di sisi lain, seseorang telah berniat untuk menjalani hidup yang baik, menjadi orang baik, dan memelihara hati yang baik, namun hanya karna gangguan kecil dari dinamika hari-harinya, akhirnya ia berubah menjerumuskan diri melakukan hal-hal negative yang merusak niatnya. Kemudian menerima akibat dari perbuatan negative yang di pilihnya, dan terjauhlah ia dari cita-cita yang telah di rencanakannya. Di sini tampak bahwa yang menghancurkan dirinya adalah sikapnya sendiri. Banyak orang tidak sadar, ketika ia telah memutuskan sebuah rencana atau niat yang baik, tentu ia akan menemui berbagai macam keadaan yang menguji komitmennya dalam menjalani yang baik-baik tersebut. Padahal dalam ajaran agama juga telah di jelaskan, sesuatu yang baik dan benar pasti akan selalu menemui cobaan dan rintangan untuk memperkokoh dan menambah ilmu si peniat agar lebih kuat untuk menemui kejadian demi kejadian yang akan datang. Begitu pula dalam hubungan sosial, hubungan kemasyarakatan, banyak orang menjerumuskan dirinya dengan cara mengikuti hal-hal yang di luar tujuan yang bermanfaat. Sebut saja beberapa contoh: bicara kemana-mana tapi bicara yang tidak mendatangkan manfaat, berjalan dan berkunjung kesana-kemari tapi tidak ada manfaat, berlama-lama duduk di posko-posko, duduk di kafe-kafe tapi tidak ada yang di kerjakan bermanfaat. Acara-acara, rapat-rapat, lomba-lomba, tapi tidak mendatangkan hasil yang bermanfaat. Meski sekedar bermanfaat untuk dirinya sendiri. Keinginan-keinginan dirinya yang beragam terus di ikutinya tanpa tahu tujuan dari keinginannya tersebut. Waktu yang tersia-sia habis namun keinginannya tidak juga habis. Akibat dari melaksanakan hal-hal di luar tujuan yang baik akhirnya ia merasa lelah dengan hidupnya, merasa jemu dengan kondisinya, dan berkepanjangan mengeluhkan keadaannya. Jika saat seperti itu melanda, segeralah tarik kembali diri. Ingat lagi apa yang menjadi tujuan dan yang di cita-citakan. Hendaknya kegiatan yang di lakukan tidak jauh dari tujuan yang baik dan bermanfaat dan tidak melenceng dari niat baik yang telah direncanakan. Tidak melayani jika keinginan lain dari tujuan datang mengganggu, karena tabiat keinginan jika sekali di layani maka ia akan minta terus di layani. Dan pada akhirnya akan sulit di hentikan dengan cepat. Jika seseorang dapat terus menjaga komitmennya tetap berada dalam tujuan yang telah ia niatkan, maka ia tidak akan terjerumus oleh keinginan-keinginan yang di luar niatnya. Karena pihak luar tidak dapat menghancurkan dirinya selain dari pada ia izinkan pihak tersebut mempengaruhinya. Maka di sinilah dikatakan yang menghancurkan pondasi dirimu, adalah sikapmu sendiri. Mestinya dalam segala keadaan dan dalam setiap masalah, seseorang telah teguh niatnya agar tidak mudah terkontaminasi oleh perasaannya dan tidak mudah terhasut oleh gaya lingkungan. Dengan demikian ia lah yang menguasai dunianya sendiri.

Senin, 15 Juni 2015

Kisah Menyentuh Qolbu, Tidak Ada Jalan Untuk Maksiat

Kemaksiatan adalah sumber malapetaka. Sudah selayaknya seorang beriman harus senantiasa menjauhi perbuatan maksiat. Kisah dalam al Qur’an telah mengajarkan kepada kita ternyata semua bencana itu sumbernya adalah kemaksiatan seperti iblis dan adam di usir dari surga. Tapi yang beda iblis tidak mau taubat, namun Adam as mau bertaubat kepada Allah Swt. Maka kalau kita ingin bahagia, selamat sudah selayaknya menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Untuk menyadarkan kita agar tidak melakukan kemaksiatan. Ada sebuah kisah yang menyentuh jiwa. Dahulu hiduplah seorang ulama bernama Ibrahim bin Ad dham. Ia bercerita, bahwa dirinya pernah didatangi seorang laki-laki ahli maksiat. Pemuda itu datang kepada dirinya untuk meminta nasihat atas pribadinya yang penuh dengan perbuatan maksiat. Lelaki itu berkata kepadanya, “Wahai Abu Ishak – gelar Ibrahim bin Ad dham. Saya seorang yang banyak berdosa lagi zalim. Sudikah kiranya tuan mengajari saya hidup zuhud, agar Allah Swt menerangi jalan hidup saya dan melembutkan hati saya yang kesat ini”. Ibrahim bin Ad dham menjawab, “Kalau kau dapat memegang teguh enam perkara berikut ini, niscaya engkau akan selamat.” “Apa itu?” tanyanya. “Pertama, bila engkau bermaksiat, janganlah engkau memakan rezeki Allah.” “Jika di seluruh penjuru bumi ini, baik di barat maupun di timur, di darat maupun di laut, di kebun dan di gunung-gunung, ada rezeki Allah maka dari mana aku makan?” tanyanya. “Wahai saudaraku, kalau engkau masih memakan rezeki Allah, masih pantaskah engkau berbuat maksiat dan melanggar peraturannya?” “Tidak, demi Allah!” Ungkau pemuda itu. Lalu ia melanjutkan, Bagaimana yang kedua? “Kedua, bila engkau bermaksiat kepada Allah, janganlah engkau tinggal di bumi-Nya!” “Tuan Ibrahim, demi Allah, yang kedua ini lebih berat. Bukankah bumi ini milik-Nya? Jika aku tak diperbolehkan tinggal, lalu di mana aku harus tinggal?” “Wahai saudaraku, bila engkau masih makan rezeki Allah dan tinggal di bumi-Nya, masihkah engkau pantas berbuat maksiat kepada-Nya? “Tidak, Tuan guru! Lalu apa yang ketiga?” pintanya. “Ketiga, jika engkau hendak berbuat maksiat, menjauhlah ketempat yang Allah tidak dapat melihatmu, atau anggaplah dial alai kepadamu!” “Tuan guru, itu adalah hal yang mustahil. Bagaimana mungkin, padahal Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu dan Melihat setiap hati manusia?” “Saudaraku, jika engkau menikmati rezeki-Nya, tinggal di bumi-Nya, dan mengatahui bahwa Allah Maha Mengetahui, masih pantaskah engkau berbuat maksiat kepada-Nya?” tegasnya. Maka pemuda ahli maksiat itu mengatakan, tentu saja tidak, wahai tuan guru. Lantas bagaimana yang keempat?” “Keempat, Apabila datang kepadamu malaikat maut, hendak mencabut nyawamu, maka katakan kepada malaikat itu, “Tunggulah dulu, aku akan bertaubat”. “Tuan guru, itu tidak mungkin. Bagaimana malaikat mengabulkan permintaanku, sedangkan aku sendiri tak tahu kapan malaikat menjemputku?” “Kalau sadar bahwa engkau tidak mengetahui saat kedatangannya, tentu ia akan datang kepadamu kapan saja dan tak mungkin engkau mampu menolak keinginannya, bahkan mungkin sebelum engkau taubat”. “Benar, Guru! Sekarang bagaimana yang kelima?” desaknya dengan malu-malu. “Kelima, jika nanti datang kepadamu malaikat Munkar dan Nakir, lawanlah kedua malaikat itu.” “Itu tidak mungkin, Guru. Bagaimana mungkin saya melawan malaikat? Lantas yang keenam bagaimana, tuan Guru?” Ibrahim bin Ad dham melanjutkan penjelasannya, “Keenam, bila esok engkau berada di sisi Allah, dan Allah menyuruhmu masuk neraka, malaikat penjaga neraka membawamu masuk kedalamnya. Tolaklah dan katakanlah, “Aku tidak Mau!” “Wahai tuan guru, cukuplah. Cukuplah nasihatmu!” Jawab lelaki itu dan ia pun pergi. Nasihat-nasihat sang guru benar-benar dipahami dan dibenarkan. Ia merenungkan bagaimana perbuatannya bisa bebas dilakukan tanpa memikirkan hal-hal yang disampaikan oleh sang guru. Ia merasa sangat bersalah dan berjanji akan benar-benar menjadi pribadi yang baik dan menjalankan semua perintah-Nya. Sungguh, ini adalah nasihat mengandung hikmah untuk orang beriman. Sebagai hamba Allah ketika menikmati rezeki Allah, pantaskah ia durhaka kepada-Nya?. Ketika ia masih hidup di bumi-Nya, pantaskah ia lalai kepada-Nya? Saat ia tahu bahwa Allah Swt maha mengetahui, masihkah bermaksaiat ia tidak malu kepada Allah. Tentu semua itu tidak pantas. Jadi tidak ada jalan untuk berbuat maksiat kepada Allah Swt. (Abu Kholid/annajah

Menikah Juga Perlu Ilmu

SEORANG Muslimah menolak perjodohan yang dilakukan orangtuanya. Menurutnya, calon yang diajukan tidak sekufu. enolakannya itu menyulut konflik dengan orangtuanya. Pada akhirnya, ia justru menikah dengan pria yang menurutnya se-kufu. Pria itu dicarikan oleh teman pengajiannya. Meski agak berat, orangtua merestui pernikahan mereka berdua. Di awal pernikahan, semuanya berjalan baik dan membahagiakan. Waktu pun terus berjalan. Mulailah mereka mengenal dengan jelas tabiat dan karakter pasangannya masing masing. Sayang, mereka berdua mulai jarang hadir dalam pengajian. Permasalahan kemudian muncul satu persatu. Istri menganggap suami sudah berubah tidak seperti dulu lagi. Sedang suami yang merasa tidak mendapat pelayanan yang baik, sibuk dengan dirinya sendiri. Permasalahan dengan orangtuanya yang dulu ia anggap sangat berat, ternyata tidak seberat dengan apa yang ia hadapi sekarang. Persiapan Pernikahan adalah hal yang fitrah dan didambakan oleh setiap orang yang normal. Baik itu laki-laki maupun perempuan yang sudah baligh. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dengan rasa saling tertarik kepada lawan jenis dan saling membutuhkan, untuk mendapatkan ketenangan dan keturunan dalam kehidupannya. Bahkan pernikahan adalah rangkaian ibadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang di dalamnya banyak terdapat keutamaan dan pahala besar yang diraih oleh pasangan tersebut. Walaupun demikian, banyak di antara kita salah menilai suatu pernikahan. Ironinya, kesalahan itu juga dilakukan oleh kalangan mereka yang mengerti ilmu sekalipun. Memang untuk mendapatkan keluarga sakinah seperti yang dicita-citakan setiap Muslim dan Muslimah, tidak semudah yang dibayangkan. Ternyata, pemahaman ilmu dien yang cukup dari masing-masing pihak memegang peran penting dalam mewujudkan cita-cita tersebut, mengingat dalam rumahtangga banyak permasalahan yang akan timbul. Misalnya, menyangkut memenuhi hak dan kewajiban suami-istri, apa tugas masing-masing, bagaimana cara mendidik anak dan sebagainya. Bagaimana mungkin semua persoalan itu bisa diselesaikan, jika tidak kita persiapkan sebelumnya? Di sinilah salah satu hikmah diwajibkannya bagi setiap Muslim untuk mencari ilmu Ilmu sebagai Landasan Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim, seperti sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim.” (Riwayat Ahmad). Ilmu yang dimaksud adalah ilmu agama yang dengannya kita tahu apa yang diperintahkan-Nya dan apa yang dilarang-Nya. Dengan ilmu itu pula kita tahu apa yang disunahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mana yang bukan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pernikahan adalah dunia orang dewasa, karena banyak persoalan yang harus diselesaikan dengan pemikiran dewasa, bukan pemikiran yang kekanak-kanakan. Maka, tidak salah pula bila dikatakan untuk menikah itu butuh ilmu sya’i, baik pihak isteri, terlebih lagi pihak suami sebagai qawwam (pemimpin) bagi keluarganya. Namun sangat disayangkan, sisi yang satu ini sering luput dari persiapan dan sering terabaikan, baik sebelum pernikahan terlebih lagi pasca pernikahan. Kurangnya pemahaman ilmu agama sering mendatangkan masalah. Misal anggapan se-kufu dalam pernikahan, jelas akan berlainan antara orang yang berilmu dengan yang tidak. Bagi orang berilmu, se-kufu adalah dalam hal agama bukan yang lainnya, apalagi yang bersifat duniawi. يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ “…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kalian….” (Al-Hujurat [49]: 13). Orang berilmu tidak akan meninggalkan orangtua dalam mencari jodoh, karena salah satu tugas orangtua adalah mencarikan jodoh untuk putra-putrinya. “Seseorang yang dianugerahi anak oleh Allah Subhanahu Wata’ala hendaknya memberikan nama yang baik, pendidikan yang baik dan menikahkannya apabila telah mencapai usia. Apabila ia tidak dinikahkan kemudian ia berbuat dosa, maka ayahnya bertanggung jawab atas perbuatannya.” (Al-Hadits). Tapi jangan salah menilai orang berilmu. Orang berilmu bukannya orang yang banyak kitab atau riwayat (Hadits). Orang berilmu adalah orang yang memahami dan mengamalkan apa yang disampaikan kepadanya (Lihat Syarhus Sunnah oleh Al-Imam al-Barbahari). Ilmu bakal mendatangkan rasa takut bagi pemiliknya, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala: وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ “…Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah orang yang berilmu (ulama)….” (Fathir [35]: 28). Di samping ilmu agama yang wajib kita pahami dan amalkan, ilmu yang menunjang harmonisnya kehidupan rumah tangga perlu juga diketahui. Misalnya ilmu berdandan, agar suami betah di rumah atau mengetahui berbagai resep masakan yang membuat lidah seisi rumah tidak mau makan kalau bukan kita yang memasak. Tarbiyah Keluarga Salah satu tugas suami sebagai qawwam keluarga adalah mendidik keluarga. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…..” (At-Tahrim [66]: 6). Kalau suami mampu mendidik langsung keluarganya adalah suatu keutamaan sebagaimana keluarga ulama terdahulu. Misalnya Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Atsqalani Rahimahullah. Kesibukan beliau dalam dakwah di luar rumah dan menulis ilmu tidaklah melalaikan beliau untuk memberi taklim kepada keluarganya. Dari hasil pendidikan ini lahirlah dari keluarga beliau orang-orang yang terkenal dalam ilmu, khususnya ilmu Hadits, seperti: saudara perempuannya Sittir Rakb bintu ‘Ali, istrinya Uns bintu Al-Qadhi Karimuddin Abdul Karim , putrinya Zain Khatun, Farhah, Fathimah, ‘Aliyah, dan Rabi`ah. Juga Sa’id Ibnul Musayyab Rahimahullah membesarkan dan mengasuh putrinya dalam buaian ilmu hingga ketika menikah suaminya mengatakan ia mendapati istrinya adalah orang yang paling hafal kitabullah, paling mengilmuinya, dan paling tahu tentang hak suami. (Al-Hilyah, 2/167-168). Tetapi tidak semua suami mempunyai kemampuan dalam ilmu agama, maka wajib bagi suami untuk memfasilitasi kemudahan dalam menuntut ilmu agama bagi diri dan keluarganya. Bisa dengan mendatangkan guru atau membelikan buku-buku agama. Menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah yang memprioritaskan pendidikan agama. Apabila semua anggota keluarga pemahaman dan pengamalan agamanya baik, insya Allah kehidupan keluarga akan bahagia. Wallahu a’lam bish shawab. */Sri Lestari, ibu rumah tangga tinggal di Yogyakarta

Keluarga, Hancur karena 6 Hal Ini

KELUARGA merupakan satu-satunya tempat yang dijadikan sebagai peneduh. Tempat setiap orang menenangkan pikirannya. Namun ternyata, hal tersebut tidak demikian adanya. Kini banyak orang yang lebih menganggap dunia luar sebagai penenang dari keluh kesahnya. Mengapa hal itu terjadi? Anggapan seperti itu ada karena suasana di dalam keluarga tidak nyaman. Ada hal-hal yang membuatnya tidak merasakan ketenangan dan ketentraman. Nah, ternyata hal tersebut dapat terjadi karena ada faktor-faktor yang membuat ketidaknyamanan di lingkungan keluarga. Apa sajakah itu? 1. Mempunyai sifat curiga Jika ada salah satu di antara suami istri maupun keduanya yang memiliki sifat curiga, maka secara tidak langsung rasa ketidak nyamanan iti akan hadir. Bila curiga itu masih dalam tahap wajar, tentu tidaklah masalah. Tapi, jikalau curiga itu berlebihan, bahkan menimbulkan emosi yang memuncak, inilah yang harus kita hindari. 2. Mempunyai sifat gengsi Banyak orang yang merasa gengsi dengan keadaan keluarganya sendiri. Maka, tak heran jika kita melihat sebuah keluarga, namun tidak seperti layaknya keluarga biasa. Sifat gengsi membuat seseorang memiliki sikap malu dan tak mau mengakui keluarganya sendiri, jikalau ia berada dalam keadaan ekonomi yang terbilang rendah. Ia ingin selalu tampil lebih “wah” daripada yang lain. 3. Bawel atau cerewet Nah, biasanya sifat ini sering dilakukan oleh kaum hawa terhadap suaminya, walau memang ada pula suami yang melakukan hal serupa. Ya, cerewet dalam menuntut haknya, ini yang sering menimbulkan konflik. Seseorang terus menuntuk haknya tanpa mengindahkan kewajibannya. Padahal, jika ada saling mengerti satu sama lain tentu hak itu akan terpenuhi, selagi ia menjalankan pula kewajibannya. 4. Royal Bersikap royal atau suka mengeluarkan untuk sesuatu yang terbilang tidak terlalu penting juga memberikan efek yang buruk dalam keutuhan rumah tangga. Keluarga tidak akan berdiri kokoh, jikalau orang-orang di dalamnya tidak bisa mengatur keuangan dengan baik. Yang ada, hidupnya akan merasa tertekan dengan banyaknya tagihan-tagihan yang tak terduga. Ini akibat dari kelalaian mereka dalam mengelola keuangan, dan tidak adanya kesadaran untuk menabung demi masa depan. 5. Apatis Jikalau Anda memiliki sikap apatis atau masa bodohan, yakni menganggap enteng terhadap suatu masalah apa pun, maka ketika ada masalah yang benar-benar serius menimpa dirinya, ia mungkin tidak akan mampu untuk mengatasinya. Oleh sebab itu, jangan sepelekan terhadap suatu masalah, walau itu terlihat kecil. 6. Selingkuh Anda tentu sudah tidak asing lagi dengan hal yang satu ini kan? Ya, perselingkuhan memang menjadi biang utama rusaknya sebuah keluarga. Selingkuh di sini bukan hanya mendua, akan tetapi ketidak terus terangan terhadap pasangan pun itu sudah termasuk melakukan selingkuh. Maka, agar keharmonisan itu tetap terjaga, cobalah untuk terbuka kepada pasangan Anda. Wallahu ‘alam.

Orang Beriman, Senang Berjumpa dengan Allah di Akhir Zaman

SETIAP manusia pasti akan merasakan kematian. Hanya saja, banyak orang yang malah takut dalam menghadapi kematian. Mereka lebih menginginkan hidup lebih lama di dunia. Padahal, berjumpa dengan Allah SWT melalui jalan kematian itu lebih indah bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa kepadanya. Maka, Allah akan senang kepada mereka yang juga senang berjumpa dengan Tuhannya. Sebagaimana Al Faqih berkata: Muhammad bin Al Fadl menceritakan kepada kami, di mana ia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Yusuf menceritakan kepada kami, Al Khalil bin Ahmad menceritakan kepada kami, Al Husain Al Marwazi menceritakan kepada kami, Ibnu Abi Adi menceritakan kepada kami dari Humaid dari Anas bin Malik, di mana ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang senang untuk berjumpa dengan Allah, maka Allah akan senang berjumpa dengannya; dan barangsiapa yang enggan untuk berjumpa dengan Allah, maka Allah akan enggan berjumpa dengannya.” Yang dimaksud dengan “senang” di sini yaitu manakala orang mukmin akan dicabut nyawanya, maka ia mendapatkan berita gembira dengan keridhaan dan surga Allah, sehingga ia merasa lebih senang mati daripada tetap hidup di dunia. Dalam situasi yang demikian, Allah pun dengan “senang” akan menjumpainya, yakni dengan melimpahkan anugerah dan karunia kepadanya. Demikianlah pengertian kata “senang” bagi Allah, dan tidak boleh diinterpretasikan dengan “senang” secara harfiah. Karena, “senang” itu merupakan kecenderungan jiwa, sedangkan hal itu tidaklah pantas dikaitkan dengan Allah. Sedangkan yang dimaksud dengan “enggan” dalam hadis di atas, yaitu manakala orang kafir akan dicabut nyawanya, maka akan diperlihatkan kepadanya ancaman diksaan yang akan ditimpakan kepadanya. Ia menangis, menyesali kesesatannya dan enggan untuk mati, maka Allah pun “enggan” untuk berjumpa dengannya. Arti “enggan” di sini, yaitu bahwa Allah akan menjauhkan dari rahmat-Nya dan kehendak untuk menyiksanya, bukan “enggan” secara harfiah yang tidak pantas dikaitkan dengan Allah. Ats-Tsauri berkata, “Bukanlah maksud dari hadis di atas bahwa rasa senang mereka untuk berjumpa dengan Allah merupakan sebab bagi “senang”nya Allah kepada mereka. Dan bukan pula keengganan mereka merupakan sebab bagi “enggan”nya Allah. Akan tetapi, tujuan dari hadis itu adalah memberi penjelasan atas keadaan mereka, di mana mereka senang berjumpa dengan Allah, ketika Allah “senang” berjumpa dengan mereka.” Semoga Allah mengaruniakan kepada kita rasa senang untuk berjumpa dengan-Nya. [] Sumber: Terjemah Tanbihul Ghafilin Peringatan bagi Orang-orang yang Lupa 1/Karya: Abu Laits as Samarqandi/Penerbit: PT Karya Toha Putra Semarang

GOBLOK

cbasbkdjfbsakjfbskdfbskdfbas msdlnasldnaslndfaslfnasldfnaldnasd n,asnd,nasdnasdasda